Mengapa Jawa Barat menjadi wilayah yang sangat menarik bagi keikutsertaan artis dalam Pemilukada 2012?
Fenomena
Pemilukada Jawa Barat 2012
Pemilihan Umum Kepala Daerah
(Pemilukada) Jawa Barat akan digelar kembali pada tahun 2013. Pencalonan sudah
dilakukan dan para calon gubernur dan pasangan calonnya adalah pasangan
Rieke-Teten (Paten), Dede Yusuf-Laksamana, Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, dan
terkahir Yance-Tatang Farhanul Hakim.
Pencalonan yang terjadi kali ini
cukup menarik dan menjadi issu yang sangat unik belakangan ini di Indonesia
secara khusus di daerah Jawa Barat itu sendiri. Fenomenanya adalah 3 tokoh dari
4 pasangan tersebut berlatarbelakang seorang artis. Mereka adalah Dede Yusuf,
yang dikenal sebagai bintang iklan produk obat sakit kepala, Rieke Dyah
Pitaloka, yang lebih dikenal melalui perannya sebagai “Oneng” dalam sinetron
“Bajaj Bajuri”, dan Deddy Mizwar, aktor senior sekaligus sutradara sinteron
religi ramadhan “Para Pencari Tuhan”.
Banyak kontrofersi yang terjadi atas
fenomena ini. Ada yang mengatakan rasa malu, kurang tepat, dan ada pula yang
menganggap kalau fenomena ini sah-sah saja. Kalau kita tinjau, di Amerika sendiri
juga pernah mengalami atau terlibat dalam fenomena ini. Misalnya, tercatat nama Ronald Reagan yang
pernah memimpin Amerika selama dua periode (1981-1989). Sebelumnya, Reagan
lebih dikenal oleh publik sebagai aktor film Hollywood. Kemudian kita juga mengenal
nama aktor laga Hollywood, Arnold Schwarzenegger yang terjun ke dunia politik
dan sempat terpilih sebagai Gubernur California, negara bagian Amerika Serikat[1].
Sebelum berbicara lebih jauh,
terlebih dahulu saya ingin menganalisis fenomena tersebut melalui beberapa
Asumsi Ilmu Sosial berikut ini[2].
1.
Asumsi Ontologi
Inti dari asumsi ini adalah
menyatakan apakah suatu fenomena itu dianggap sebagai suatu kebenaran yang
independen atau kebenaran tersebut merupakan produk persepsi individu.
Kolerasinya adalah dalam hal ini dari segi kesamaan hak didalam hukum dan
pemerintahan itu (UUD 1945 Psl 27 Ayat 1). Semua orang memiliki hak yang sama
untuk mencalonkan diri didalam pemerintahan termasuk pencalonan diri manjadi
seorang calon gubernur asalkan sudah memenuhi persyaratan yang harus dipenuhi. Jadi
secara hukum dan pemerintahan semua orang berhak untuk mengambil kursi di
bangku pemerintahan ataupun dibangku manapun diluar pemerintahan.
2.
Asumsi Epistomologi
Inti dari asumsi ini adalah adalah
bagaimana sesorang dapat menyampaikan pemahamannya kepada individu lain.
Kolerasinya, tiga orang dari empat pasangan tersebut berlatarbelakang artis
yang notabene tidak berkecimpung di dunia politik. Terkecuali mereka
benar-benar mengerti tentang dunia politik Indonesia sendiri dan mengerti
bagaimana seharusnya politik itu menjadi serana sebuah perubahan. Kalau mereka
tidak memahami apa itu politik dan bagaimana dunia politik yang sebenarya, ini
yang akan menjadi masalah yang berdampak sangat besar. Bagaimana seorang
pemimpin menyampaikan sejumlah perintahnya dan menjalankan komunikasinya kepada
masyarakat jika ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia jalani. Bagaimana
nantinya ia menjalankan pemerintahan kalau ia tidak mengerti apa itu
pemerintahan secara detail.
3.
Asumsi Human Nature
Inti dari asumsi ini adalah bahwa
manusia itu dibentuk dari lingkungannya. Pemahaman mereka juga dibentuk dari
lingkungan dimana mereka berkecimpung dan menjalankan tugas, fungsi, dan juga
kebiasaannya. Lingkungan dapat membentuk dirinya sendiri dan bagaimana ia
mengambil keputusan serta bersikap kedepannya. Jadi dalam hal ini bisa saja
kita mengimplikasikan pasangan artis tersebut yang mencalonkan diri tersebut akan banyak belajar
dari lingkungan pemerintahannya nanti. Tidak tertutup kemungkinan bagi meraka
nantinya untuk belajar disaat mereka sudah menduduki kursi pemerintahannya.
Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah selayaknya mereka belajar setelah
didalam saja nantinya? Apa yang menjadi modal mereka untuk masuk kedalam dunia
politik tesebut sudah seharusnya dimiliki dari sekarang.
4.
Asumsi Metodologi
Inti dari metodologi ini adalah
bagaimana para ahli memahami dan meneliti ilmu sosial dan berbagai fenomena
didalamnya dengan melakukan berbagai metodologi penelitian. Jadi, metodologi
ini berkaitan dengan metodologi/asumsi-asumsi sebelumnya.
Implikasi dari beberapa asumsi
diatas adalah para calon yang sudah mencalonkan diri sebaiknya mencalonkan
dengan komitemen, pemahaman, dan tujuan yang jelas untuk mengambil bagian
didalam dunia politik dan pemerintahan. Terlepas dari latarbelakang apapun,
baik itu rakyat biasa, kalangan artis, pejabat politik, dan apapun itu,
seharusnya memiliki pemahaman yang jelas dan tujuan serta visi yang baik
mengenai langkah yang diambil akan kepemimpinan didalam pemerintahannya. Karena
selain menyangkut masa depan warga masyarakat di lingkungan tersebut, juga
berpengaruh pada harga dirinya sendiri.
Motivasi-motivasi yang salah
sebaiknya dihilangkan. Apalagi dalam hal ini kalangan artis diberbagai sumber
dinyatakan bertujuan untuk menaikkan popularitas nama partai yang mendukungnya.
Terlepas darai nama artis, kemungkinan pun rakyat biasa atau pejabat politik
manapun tak jarang memiliki motivasi yang salah untuk mengambil keputusan sebagai
pejabat pemerintahan, termasuk gubernur Jawa Barat. Demikian juga motif dari
partai politik itu sendiri. Sama halnya seperti yang dikatakan oleh seorang
pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro
mulai terjadi sejak Pemilihan Umum 2004 silam, dimana fenomena ini semakin
mewabah pada 2009 dan terus berlanjut hingga kini. Dia membeberkan, krisis
kepemimpinan dan tidak berjalannya kaderisasi partai politik untuk
melahirkan pemimpin yang laku jual (marketable) mencipta adanya para
politisi karbitan."Bukti jelas adanya kegagalan demokrasi parpol, sistem
pemilu dan kaderisasi parpol[3].
Jadi parpol yang baik sebenarnya tidak harus mengangakat nama artis tersendiri
untuk menaikkan popularitasnya, justru mereka sendiri yang harus mengkaderisasi
dan membekali anggotanya untuk menjadi seorang kader dan pemimpin dengan pemahaman politisi dan pemerintahan yang
baik.
Jadi, kesimpulan yang saya ambil
adalah setiap orang memang berhak memiliki kedudukan yang sama didalam
pemerintahan, namun lepaskan motif yang tidak tepat dan melangkahlah kareba
pemahaman yang tepat pula atas langkah yang akan diambil tersebut. Partai
Politik boleh mengangkat artis untuk maju mewakili partainya, tetapi akan lebih
baik jika partai politik itu sendiri menciptakan nilai popularitas sendiri dari
kader yang kepemimpinannya suda dibekali dengan baik.
Sumber:
Nurlaila, Anda .2012.
http://life.viva.co.id/. Fenomena Artis
dipanggung Politik.. Diakses pada Selasa, 4 Desember 2012. Jam 17.00
Dewa. http://politik.kompasiana.com.
Membanggakan Atau Memalukan Pilkada Jabar
Dikuasai Artis. Diakses pada Selasa, 4 Desember 2012. Pukul 15.23
Mushawardy. Asumsi-asumsi yang Melatarbelakangi Paradigma. Universitas
Padjadjaran.2012
[1] Dewa.
http://politik.kompasiana.com. Membanggakan
Atau Memalukan Pilkada Jabar Dikuasai Artis. Diakses pada Selasa, 4
Desember 2012. Pukul 15.23
[2] Mushawardy. Asumsi-asumsi yang Melatarbelakangi
Paradigma. Universitas Padjadjaran.2012
[3] Anda
Nurlaila.2012. http://life.viva.co.id/. Fenomena
Artis dipanggung Politik.. Diakses pada Selasa, 4 Desember 2012. Jam 17.00